![]() |
| Ai, memberi ruang kemudahan dalam mencari jawaban, namun dampaknya khususnya pelajar tidak bisa berpikir kritis. |
Satuspirit – Mencari jawaban dari soal yang sulit kini tidak selalu berarti harus membuka buku, bertanya kepada guru atau menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan.
Cukup membuka telepon genggam, mengetik pertanyaan di Google atau memasukkannya ke aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI), jawaban bisa muncul dalam hitungan detik.
Fenomena tersebut semakin terasa di kalangan generasi muda, termasuk pelajar.
Data Statista Consumer Insights yang dikutip sejumlah media menunjukkan 61 persen responden di Indonesia mengaku menggunakan AI untuk kebutuhan pendidikan dan pembelajaran. Angka itu menjadi yang tertinggi dibandingkan negara lain yang masuk dalam survei tersebut. Indonesia berada di atas India 57 persen dan Afrika Selatan 56 persen.
Namun, tingginya penggunaan AI untuk belajar menyisakan pertanyaan lain: apakah teknologi tersebut benar-benar membantu seseorang belajar, atau justru perlahan membuat orang malas berpikir?
Pertanyaan itu setidaknya dirasakan oleh Bernard, seorang siswa kelas 3 SMA di Kota Bandung.
Awalnya karena ingin mencari jawaban
Bernard bukan siswa yang menganggap dirinya sangat pintar. Ia juga tidak merasa dirinya kurang mampu.
Ia menyebut dirinya berada di tengah-tengah. Biasa saja.
Namun, ketika menemukan pertanyaan atau materi pelajaran yang sulit, telepon genggam menjadi salah satu tempat pertama yang ia datangi.
“Ya terus terang saja, kalau saya sulit cari jawaban, biasanya search Google atau AI. Biasanya semuanya ada,” kata Bernard kepada redaksi Satuspirit Media.
Menurutnya, AI memang memberikan kemudahan. Pertanyaan yang sebelumnya membutuhkan waktu untuk dicari jawabannya bisa mendapatkan penjelasan dalam waktu singkat.
Bahkan ketika ia menemukan sesuatu yang belum pasti atau membuatnya ragu, AI kerap menjadi tempat untuk mencari penjelasan tambahan.
“Kalau ada sesuatu yang kurang pasti atau saya ragu-ragu, biasanya tanya AI. AI bisa menjawab,” ujarnya.
Di satu sisi, Bernard mengakui kehadiran AI sangat membantu aktivitas belajar.
Tetapi di sisi lain, ia mulai merasakan sesuatu yang menurutnya perlu diwaspadai.
Kemudahan itu bisa membuat dirinya terlalu terbiasa mendapatkan sesuatu secara instan.
Bernard mengaku terkadang kreativitas dan daya pikirnya ikut terasa berkurang ketika terlalu mengandalkan teknologi.
Bukan karena AI selalu memberikan jawaban yang salah, tetapi karena dirinya menjadi tidak perlu terlalu lama memikirkan sebuah persoalan.
“Kalau zaman dulu kan tidak ada yang seperti ini. Semuanya benar-benar berusaha mencari jawaban,” katanya.
Sekarang, ketika jawaban terasa sulit dicari, ada jalan pintas yang tersedia di dalam genggaman.
“Daripada susah-susah, mendingan langsung ke AI,” ucapnya.
Kalimat sederhana itu justru menjadi gambaran persoalan yang lebih besar.
AI memang bisa membantu seseorang bekerja lebih cepat. Tetapi ketika kemudahan tersebut membuat seseorang berhenti mencoba, proses belajar yang sebenarnya justru bisa berkurang.
Bernard mengatakan dirinya sendiri pernah merasakan hal tersebut.
“Kadang-kadang daya pikir saya sendiri suka menurun. Jadi lelah, jadi nggak mau lelah pikiran itu. Daripada susah-susah, mendingan langsung ke AI,” tuturnya.
Pengalaman Bernard sejalan dengan perdebatan yang kini semakin ramai dalam dunia pendidikan.
AI bukan semata-mata sesuatu yang harus dijauhi. Teknologi ini bisa membantu siswa memahami materi, mencari penjelasan, membuat contoh, berlatih soal, bahkan berdiskusi mengenai suatu topik.
OpenAI sendiri pada 2025 memperkenalkan Study Mode di ChatGPT yang dirancang untuk membantu pengguna belajar melalui pertanyaan dan panduan langkah demi langkah, bukan sekadar memberikan jawaban akhir. Tujuannya adalah mendorong pengguna memahami proses dan ikut berpikir dalam menyelesaikan persoalan.
Penelitian yang dipublikasikan OpenAI pada Agustus 2026 bersama peneliti Universitas Bocconi juga memberikan gambaran menarik. Dalam eksperimen terhadap lebih dari 1.000 mahasiswa, akses ChatGPT membantu meningkatkan kualitas dan koherensi pekerjaan. Namun, pelatihan berpikir kritis memberikan manfaat berbeda, terutama dalam mendorong munculnya gagasan yang lebih beragam dan orisinal. Ketika keduanya digabungkan, manfaatnya menjadi lebih lengkap.
Artinya, AI dan kemampuan berpikir tidak harus dipertentangkan.
Yang menjadi persoalan adalah ketika AI digunakan untuk menggantikan proses berpikir.
Sebuah penelitian dalam Acta Psychologica terhadap 580 mahasiswa di China juga menemukan adanya hubungan antara ketergantungan yang lebih tinggi terhadap AI dengan tingkat berpikir kritis yang lebih rendah. Penelitian tersebut mengaitkan sebagian hubungan itu dengan kelelahan kognitif.
“Kalau bisa, jangan terlalu mengandalkan AI”
Bernard sendiri tidak ingin mengatakan bahwa AI adalah sesuatu yang buruk.
Menurutnya, teknologi tersebut tetap memiliki banyak manfaat.
Namun, berdasarkan pengalaman pribadinya, penggunaan AI sebaiknya tidak dilakukan setiap kali menemukan kesulitan.
Ia bahkan memberikan pesan sederhana kepada pelajar lain.
“Kalau bisa sih jangan terlalu mengandalkan AI atau search Google. Mendingan berusaha dulu,” katanya.
Menurut Bernard, mencoba mencari jawaban sendiri justru penting agar otak tetap terbiasa bekerja.
“Kalau bisa mah lawan lah, jangan pengen menggunakan AI,” ujarnya.
Pesan itu terdengar sederhana. Tetapi di tengah semakin mudahnya mendapatkan jawaban, kemampuan untuk menahan diri agar tidak langsung mencari jalan pintas justru menjadi tantangan baru bagi pelajar.
Reporter: Alifa Fajrin
Editor: Restu Nugraha
Sumber dan referensi: Berbagai sumber terpercaya.
(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar